Minggu, 22 April 2012

Idealisme Keindahan Moral Pada Generasi Muda

Idealisme keindahan moral pada generasi muda bisa kita artikan adalah sebagai cara atau patokan idealnya moral suatu pemuda dalam kehidupannya, disini saya akan mengangkat tema moralnya yaitu kejujuran
 
Ya kejujuran adalah sikap yang antara perbuatan atau kejadian yang ada sesuai dengan yang dibicarakannya tidak ada ditambahkan  maupun dikurangi, jujur ini merupakan elemen yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap pribadi masing masing terutama pemuda, karena jika terbiasa jujur dari muda insyaALLAH kedepannya akan lebih baik.

Moral jujur sekarang sudah mulai pupus dari pribadi setiap pemuda, sekarang mencari orang yang jujur bak mencari jarum dalam jerami, ya sangat susah. Kita lihat saja fakta yang terjadi di kehidupan kita banyak sekali pemuda yang tak berkata jujur terhadap orang tuanya, temannya, sahabatnya saudara , guru , dosen bahkan pada dirinya sendiri pun tak jujur. Bahkan sekarang banyak sekali pejabat pejabat / petinggi kita tidak jujur / amanah terhadap tugasnya, itu diakibatkan mereka tidak ditanamkan pondasi yang kuat terhadap moral kejujuran.

Dan pasti dalam setiap agama, pasti ada nilai kejujuran yang dijunjung tinggi, karena inilah dasar kehidupan kita, seseorang akan berhasil dan dipercaya orang karena dimulai dari kejujuran.  Jadi mulailah dari diri kita tanamkan moral kejujuran , karena jika diri kita memulai untuk berkata jujur pasti  lingkungan  atau bangsa kita akan menjadi bangsa yang kita idamkan

Senin, 09 April 2012

Obat Penyakit Hati Menurut Agama Masing-Masing

Kalau bicara soal penyakit, pastilah semua ada penyebabnya, dari mulai terjangkit virus, tertular dari si penderita atau kurangnya menjaga kesehatan. Dan intinya itu semua berasal dari dunia luar. Namun ada satu jenis penyakit yang hampir pasti dimiliki setiap individu di seluruh dunia ini. Penyakit yang dimana sumbernya berasal dari diri sendiri dan cara menyembuhkannya terbilang unik, bukan dengan obat herbal ataupun ramuan - ramuan atau obat - obatan mujarab melainkan dari diri sendiri dan ketaqwaan kepada sang pencipta. Karena penyakit yang satu ini bukan berasal dari virus ataupun bakteri hidup, melainkan penyakit ini dinamakan 'penyakit hati'. Dalam arti jiwa yang terjangkit penyakit tersebut. Efek jika terjangkit penyakit ini bukan lah sakit pada beberapa anggota tubuh, namun bisa berakibat bertambahnya 'dosa'. Karena jika seseorang telah terjangkit penyakit ini, urusannya bukan hanya kepada sesama manusia tapi bisa langsung ke Sang Pencipta.
     Contoh yang akan dijelaskan adalah penyakit serakah. Orang yang selalu merasa berkurangan padahal nyatanya sudah berkelebihan, biasa disebut dengan istilah serakah atau tamak. Orang serakah biasanya menginginkan agar dirinya memiliki sesuatu paling banyak. Keinginannya itu tidak pernah berhenti. Apa yang sudah dimiliki, sekalipun sudah terlalu banyak, masih selalu dirasa kurang, dan karena itu masih ingin berusaha menambahnya.
     Sekalipun kekayaannya sudah sedemikian besar, orang masih saja berusaha menambahnya lagi dengan berbagai usaha, misalnya berternak berbagai jenis binatang, ada sapi, kerbau, kambing, kucing, anjing, dan bahkan ular dipelihara. Dengan begitu, ia bangga atas kepemilikannya itu. Padahal apakah semua kekayaannya itu akan dikunsumsi?. Jawabnya, tentui saja tidak. Bagi mereka yang penting adalah berhasil merasa memiliki sebanyak - banyaknya. Itulah yang disebut sebagai orang serakah atau tamak.
     Kadang sedemikian banyak jumlah kekayaan seseorang, yang jika dibanding dengan kebutuhannya sudah jauh berlebihan. Akan tetapi, kekayaan itu untuk memenuhi keinginannya. Apa yang diinginkan masih jauh lebih banyak dari yang dimiliki. Sekalipun hartanya sudah banyak, dirasa masih kurang banyak lagi. Lagi-lagi, itu terjadi karena sifat serakah yang ada padanya.
     Gambaran seperti itu menunjukkan bahwa keinginan memang tidak ada batasnya. Jika nafsu itu tidak bisa dikendalikan, maka berapapun harta yang ada, tidak akan mencukupi. Sifat itu tidak saja menjadikan yang bersangkutan menderita, tetapi juga berakibat buruk terhadap orang lain. Perluasan usahanya itu, tidak jarang berakibat mempersempit dan bahkan mematikan usaha orang. Ekonomi orang kecil menjadi mati dan atau setidak-tidaknya sulit dan kalah bersaing.
     Islam mengingatkan, jangan menjadi orang serakah atau tamak. Terlalu mencintai harta disebut sebagai hubbul mal, dan hal itu adalah termasuk bagian dari akhlak buruk yang seharusnya dijauhi. Seseorang boleh-boleh saja mencari rizki, tetapi usaha itu tidak selayaknya dilakukan hingga keterlaluan, sampai pantas disebut sebagai orang serakah atau tamak, sehingga berakibat lupa mengingat Allah.
      Orang serakah atau tamak membahayakan orang lain. Negeri yang kaya sumber alam sekalipun, seperti negeri kita ini, ternyata rakyatnya masih banyak yang miskin, hanya karena disebabkan oleh banyaknya orang serakah atau tamak itu. Mereka terlalu mencintai harta, dan selalu berusaha memenuhi keinginannya, tanpa peduli dengan sesamanya yang miskin. Maka dari itu sifat serakah atau tamak harus dijauhi dari diri masing-masing.

Sabtu, 07 April 2012

HUKUM DI NEGERI INDONESIA


Dapat kita lihat seperti gambar diatas, merupakan cermin hukum di Indonesia saat ini. Banyak kasus-kasus yang tak terpecahkan, banyak pula rakyat yang meronta pada pemimpinnya. Dimana keadilan? Dimana janji-janji? Yang ada hanya KORUPSI.

Korupsi di negeri ini seperti tumor atau penyakit yang akut meradang, dan menyerupai sebatang pohon yang tumbuh membesar dengan ranting-rantingnya yang menjulur ke langit serta akar yang kokoh mencengkram tanah. Bahkan kotoran itu menyerupai semacam trend yang patut mendapat acungan jempol dan rating bintang. Kita tidak lagi merasa asing ataupun aneh dan mungkin bersikap apatis dengan berita-berita serta perbincangan di berbagai media yang mengupas kasus korupsi di negeri ini yang tidak ada habisnya. Tapi pelaku korupsi yang disebut biang maling (koruptor) yang telah meludahi dan mencoreng aib, bahkan sebenarnya telah mengkhianati negeri ini; bisa begitu nyaman melenggang dan berongkang kaki dengan berbagai fasilitas serta keistimewaan laiknya seorang yang berprestasi dan berjasa untuk kemajuan negeri ini. Di mana letak harga diri dan rasa malu bangsa ini? Atau memang bangsa ini sudah tidak memiliki wajah? Lalu apa gunanya hukum dan perundang-undangan jika itu sekedar catatan yang dipahami cuma untuk ketololan? Akankah keadilan itu menjadi diksi yang tertidur dan mengigau dalam lipatan selimut? Dan apa sebenarnya yang kita perjuangkan untuk bangsa ini setelah diwarisi kata merdeka? Lemahnya hukum yang ditunjang dengan lemahnya mental, akhlak, serta pola pikir pelaku hukum terhadap pelaku korupsi di negeri ini adalah gambaran kebobrokan dan menjadi faktor utama dari kemandulan dan kegagalan hukum di negeri ini dalam menyikapi kasus korupsi. Keberadaan KPK (komisi pemberantasan korupsi) sebagai instansi yang menangani kasus korupsi di negeri ini, hanya akan menjadi sebuah wacana atau retorika kosong yang tidak akan berdampak apapun dalam menjalankan tugas dan wewenangnya jika tidak adanya ketegasan dari hukum dan semua elemen pendukungnya (pelaku hukum). Dan sudah sepatutnya hukuman mati diberlakukan bagi pelaku korupsi atau koruptor sebagai bentuk ketegasan hukum dan pelaku hukum di negeri ini.
Penegakan supremasi hukum negeri ini menganut filosofi belati, sebuah bilah besi tipis dan tajam yang bertangkai sebagai alat pengiris dan banyak macam dan namanya (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2003). Hukum memang tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.

3 biji kakao mendekam dalam jeruji, korupsi milyaran bebas melenggang ke luar negeri, Inilah ironi negeri ini.

Bicara soal pemberantasan korupsi, tapi nyata-nyata korupsi masih tumbuh subur. Ngomong komitmen dalam penegakan supremasi hukum malah inkonsisten terhadapnya.

Hukum di Indonesia jelas-jelas menganut filosofi belati, tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Jika sudah seperti ini, mari tunggu kehancuran negeri.

Jumat, 23 Maret 2012

CINTA KASIH


Cinta kasih orangtua begitu besar kepada sang anak, antara orangtua(ibu dan ayahnya) yang
bekerja dan orangtua(ibu) yang tidak bekerja sangatlah berbanding lurus jikalau mereka
ingat dengan anaknya, membagi waktu antara dunia kerja dan peran sebagai orangtua. Ada
yang orangtuanya bekerja yang bisa membagi waktu untuk anaknya dan ada yang tak bisa
membaginya, yang penting kebutuhan sekolah dan yang lainnya terpenuhi asal mereka
bekerja keras dan mereka puas. Apakah mereka PUAS? Pasti sang anak menjawab puas
tetapi ada yang kurang dari mereka terhadap mereka.

Ada pula yang orangtua(ibu) yang tak bekerja tetapi yang melupakan anaknya karena sibuk
dengan temannya, bergaul ke sana kemari, arisan sana-sini, ke salon, mungkin ada yang
seperti itu dan anaknya hanya dikasih uang berapa untuk keperluannya, apakah sang anak
senang? IYA tetapi adakalanya mereka merasa sendiri dan tak ada yang perduli.

Yang orangtuanya bekerja hanya mementingkan uang untuk kebahagiaan mereka, ada yang
anaknya terima begitu saja yang penting mereka menuruti pintaku dan ada yang tidak.
Kemungkinan yang menerima begitu saja karena banyak teman dan dapat bersenang-senang
bareng dengan menghabiskan uang dan kalaupun meminta lagi pasti dikasih, yang penting
happy ‘katanya’ dan pasti ada kalanya mereka merasa sepi kalau perpisahan waktu yang
memisahkan dengan temannya, karena yang diingkan hanya ada orang yang bisa diajak
bicara bersama, mampu mendengarkan ceritanya, temanpun ada rasa bosan ataupun tidak
kalau selalu ditemenin ke sana kemari walaupun diteraktir. Yang tak menerima begitu saja
pasti akan berulah yang aneh- aneh saat di sekolah maupun di rumah, mereka bosan.
BOSAN. Dan dia mampu mengontrol keinginannya saat di lingkungan. Saat makan malam
bersama yang jarang-jarang ini hanya membicarakan pekerjaan tanpa menanyakan
‘bagaimana sekolahnya?’ dan selesai makan sang anak langsung ke kamar. Suatu ketika
mereka berulah yang sampai dipanggil orangtuanya, orangtuanya hanya memarahinya dan
tak menanyakan kenapa melakukan begitu.

Yang orangtuanya(ibu) tak bekerja yang hanya memberi uang banyak terhadap anaknya pun
sama mencari kesenangan dengan orang lain, ibunya hanya mementingkan kebahagiaan
sendiri dan ayahnya hanya sibuk mencari uang, sang ibu hanya berbicara dengan suaminya
soal ‘uang’ berbicara hal lainpun jarang dan sang suami berkata ‘yang penting mereka
tercukupi’. Suatu ketika mereka pergi bersama untuk makan malam bersama, si ibu tampil
cantik karena dia amat modis dan tak mau ketinggalan zaman, sang suami tampil biasa,
begitupun sang anak, di mobil hanya diam-diaman, hanya obrolan ‘Sedikit’ terucap oleh
suami istri dan sang anak hanya sibuk memainkan gadgetnya saja dan berbincang dengan
temannya lewat di dunia maya, sang anak merasa kebahagiaan sesungguhnya hanya di dunia maya bukan di dunia nyata. Saat makan bersamapun hanya suara piring, garpu, dan
sendok yang terdengar bukan omongan seminggu ini melakukan apa saja. Selesai makanpun
sama saja seperti saat berangkat untuk makan malam.



Dan mereka menuliskan semua cerita mereka di laptopnya dan seketika sang anak pergi
menginap di rumah temannya ‘Bu, Yah aku punya cerita, tolong kalian baca. Aku mohon
kalian baca!’

Sang anakpun menuliskan ‘Maaf oarngtuaku sayang. Bu, Yah kalian tahu sebenarnya aku
nakal saat di sekolah dan di rumah tetapi aku mampu menahan egoku di lingkungan, aku di
sekolah nakal hanya ingin diperhatikan, aku terkadang mengajak teman-temanku pergi
tetapi mereka harus pulang karena ibunya menyuruhnya pulang, KALAU AKU? Tidak ada.
Apa aku iri? Jawabanku Iya Aku Iri SEKALI. Saat Ibu ataupun Ayah dipanggil di sekolah karena
aku ingin kalian tahu aku, tak sibuk dengan pekerjaan kalian, menurutku kalian sudah datang
sudah peduli dan memarahiku tapi aku berusaha terima nasihatmu. Oranglain kalau
dimarahi terkadang tidak suka, kalau aku suka itu. Apa kalian tahu aku sudah beranjak
dewasa? Apa kalian perhatikan ini, tiap kali aku diasuh dan untungnya yang mengasuhku
betah denganku. Aku tahu kalian sayang aku tapi aku hanya meminta kepedulian kalian
terhadap kalian, selama ini aku hanya mengalah, sejak TK aku diasuh sampai SMA seperti ini,
aku iri melihat temanku yang lain. Apa kalian tahu? Pasti tidak. Aku sayang kalian, aku tak
butuh ucapan Ibu dan Ayah sayang aku, yang hanya kubutuh perhatian kalian walau hanya
sedikit. Aku berulah juga bukan yang aneh-aneh, hanya kenakalan siswa yang biasa. Maaf
sekali lagi. Terimakasih telah membaca ?’

Dan kemudian mereka mencari anaknya dan mereka berjanji tak mengulanginya lagi seperti
beberapa tahun yang lalu dan membuat tanggung jawab mereka yang telah hilang.

Ada juga yang orangtuanya bekerja ataupun tidak mereka yang mampu berbagi dengan
anaknya, mereka sering bercerita dan bertukar pikiran dan mereka suka itu karena itu yang
mampu mengharmoniskan hubungan mereka. Keseharian anaknya diperhatikan, walau
melalui komunikasi telepon, itu sudah menunjukkan bahwa mereka peduli dan sang anak
mampu berprestasi dalam sekolahnya.

Rabu, 21 Maret 2012

Jika Orang Jawa Menjadi Teroris

Karya sastra yang akan saya komentari adalah sebuah buku yang menceritakan tentang beberapa aksi teroris yang sempat muncul belakangan ini. Tidak ada maksud rasis pada buku ini(karna saya sendiri orang jawa)


           Bagi sebagian masyarakat mempersepsikan orang Jawa adalah orang yang ramah, santun, religius, dan suka mengalah. Karakter orang Jawa, kemudian disimbolkan dalam perwayangan  dengan Pandawa Lima. Yakni, Puntodewo, Werkudoro, Arjuna, Nakula, dan Sadewo. Puntodewo, Nakula, dan Sadewa di artikan sebagai tokoh yang lemah-lembut dan selalu mengalah.
           Sedangkan, Arjuna sebagai tokoh yang pandai, baik dalam diplomasi maupun perang. Sedangkan, Werkudoro tokoh yang lurus, pemberani, dan pantang menyerah. Lantas, bagaimana dengan banyaknya orang Jawa yang menjadi teroris apakah masih pantas orang Jawa di simbolkan dengan Pandawa Lima?
           Mayoritas penduduk  Jawa Muslim. Islam di sebarluaskan oleh para Walisongo. Seiring dengan isu teroris di dunia mencuat pasca tragedi 11/9 di Amerika banyak kaum radikal kemudian menyebarkan panji-panji Jihad untuk memerangi kaum kafir seperti orang Amerika, Eropa dan negara-negara non Muslim lainnya. Bangsa Indonesia, khusunya Jawa  di jadikan sebagai tempat dakwah ideologi radikal. Banyak generasi muda orang Jawa di ajak untuk berjihad. Dengan dalih, Jihad suci sesuai perintah Agama dan di jamin akan masuk surga. Akhirnya, banyak orang-orang muda jawa terperangkap yang kemudian menjadi teroris akibat di cekoki ideologi radikal. Seperti, Amrozi, Imam Samudera, Abu Dujana, dan Abu Bakar Baasyir dll.
           Terorisme telah menebar kekhawatiran dan ketakutan kepada masyarakat.. Dan, sewaktu-sewaktu ia mampu mengebom dan membuat ancaman secara mengejutkan.  Citra Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi pemeluknya di bungkus dengan kebencian dan makian oleh kaum radikalisme. Misi dakwah kaum radikal yang sukses mendapat pengikut banyak di Jawa. Setelah sukses mengembangkan jaringan di Jawa akhirnya, kini Jawa di jadikan sebagai tempat pengendali aksi gerakan terorisme di Indonesia. Sekalipun, para gembong teroris tersebut kini sudah banyak yang sudah tertembak mati dan tertangkap hidup-hidup namun, masih saja bermunculan wajah-wajah baru pelaku teroris. Ibarat mati satu tumbuh seribu.
          Buku bertajuk” Orang jawa menjadi teroris” karya Bambang Pranow berusaha membeberkan mengapa banyak orang Jawa terseret menjadi teroris. Padahal, orang Jawa sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi, dan religius tidak mudah di pengaruhi oleh paham-paham lain yang bertentangan. Sebagaimana, Islam dapat masuk ke Jawa melalui akulturasi budaya. Berbeda dengan gerakan Islam radikal yang ada di Jawa mereka berdakwah dengan cara-cara picik dan licik.  Sebagaiman diketahui bahwa “Abu Dujana, Abu Irsyad, Amrozi dll di gembleng secara fisik, psikologis, dan ideologis untuk melakukan perang dengan orang kafir yang harus di perangi ”.(Hal 18)
            Di tengah kehidupan berbangsa yang semakin kompleks fakto kemisikinan dan ketidakadilan yang di alami umat Islam nampaknya menjadi penyebab mereka teriur untuk ikut menjadi teroris. Dalam konteks inilah, buku ini penting untuk di baca. Buku yang merupakan bunga rampai dari sekumpulan artikel yang tercecer di mana-mana menarik kita baca. Buku ini, menggugah diri kita untuk bagaimana menyelesaikan persoalan terorisme di Indonesia khusunya di Jawa.  Dan, menjadikan inspirasi bagi kita untuk tidak membiarkan gerakan teroris di sekeliling kita.

Jumat, 09 Maret 2012

PENGARUH KEBUDAYAAN

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Kebudayaan sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang, seperti bahasa, etika, cara berpakaian, dialek seseorang tersebut. Misalnya, budaya berpakaian di kota agak berbeda dengan yang masih berada di pedesaan. Masyarakat di kota lebih cenderung memakai pakaian yang lebih terbuka dibandingkan dengan mereka yang tinggal di desa yang masih memegang adat istiadat.
Lalu berikutnya tentang dialek atau logat berbicara. Pada daerah tertentu, dialek bahasanya ada yang memiliki intonasi tinggi sehingga menimbulkan kesan "galak" atau sedang marah-marah, padahal sebetulnya tidak. Tetapi ada juga yang dialek bahasanya sangat halus.

Rabu, 11 Januari 2012

Tugas 4

Pelapisan Sosial
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Menurut beberapa ahli pelapisan masyarakat adalah sebagai berikut:
  •  Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).
  • Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
  •  Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
  • Menurut max weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
Kesamaan Derajat
Cita-cita kesamaan derajat sejak dulu telah diidam-idamkan oleh manusia. Agama mengajarkan bahwa setiap manusia adalah sama. PBB juga mencita- citakan adanya kesamaan derajat. Terbukti dengan adanya universal Declaration of Human Right, yang lahir tahun 1948 menganggap bahwa manusia mempunyai hak yang dibawanya sejak lahir yang melekat pada dirinya. Beberapa hak itu dimiliki tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama atau kelamin, karena itu bersifat asasi serta universal. Indonesia, sebagai Negara yang lahir sebelum declaration of human right juga telah mencantumkan dalam paal-pasal UUD 1945 hak-hak azasi manusia. Pasal 2792) UUD 1945 menyatakan bahwa, tiap-tiap warganegara  berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 29(2)  menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.
 
Elite dan Massa
Dalam masyarakat tertentu ada sebagian penduduk ikut terlibat dalam kepemimpinan, sebaliknya dalam masyarakat tertentu penduduk tidak diikut sertakan. Dalam pengertian umum elite menunjukkan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite adalah sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan  kecil yang memegang kekuasaan.
Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan : “ posisi di dalam masyarakat di puncak struktur struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.” Tipe masyarakat dan sifat pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.” Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitnya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitive.
Di dalam suatu pelapisan masyarakat tentu ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci atau mereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai kehijaksanaan. Mereka itu mungkin para pejabat tugas, ulama, guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunan an lainnya lagi. Para pemuka pendapat (opinion leader) inilah pada umumnya memegang strategi kunci dan memiliki status tersendiri yang akhirnya merupakan elite masyarakatnya.
Contoh:
Dalam setiap individu tentu memiliki kesamaan yang sama, misalkan dalan setiap individu yang lahir kebumi ini mereka semuanya berhak mendapatkan pengasuhan sampain dapat hidup dengan mandiri, seterusnya ketika telah dewasa dan berhak mendapat pendidikan dan kasih saying dari orang tua. Semua individu tersebutlah yang berhak mendapatkanya dan semua derajat merekapun sama baik dimata Tuhan atau sesame individu.